KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA
1. Nama Kerajaaan : Perlak
Raja : Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Syah
Peristiwa : Didirikan pada abad ke-9 oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Syah, namun pada tahun 1292 kerajaan ini disatukan dengan kerajaan Samudera Pasai.

2. Nama Kerajaan : Samudera Pasai
Raja : Sultan Malik al-Saleh, Muhammad Malik az-Zahir, Mahmud Malik az-Zahir, Mansur Malik az-Zahir, Ahmad Malik az-Zahir, Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Nahrasiyah, Sallah ad-Din, Zaid Malik az-Zahir, Mahmud Malik az-Zahir, Zain al-Abidin, Abdullah Malik az-Zahir, Zain al-Abidin
Peristiwa : Didirikan Meurah Silu (Sultan Malik al-Saleh). Pernah dikunjungi oleh saudagar dari Venesia bernama Marco Polo. Tahun 1345 juga dikunjungi oleh serang pengelana dari Maroko, Ibnu Battuta. Menurut cerita Ibnu Battuta, saat itu kerajaan ini makmur dan telah menggunakan mata uang emas yang disebut deureuham. Abad 14 kerajaan ini bberhasil mengangkat diri sebagai salah satu pusat studi agama Islam. Akhir abad 14 kerjaaan diliputi suasana kekacauan dan perebutan kekuasaan. Setelah tahun 1524 Kesultanan Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh Darussalam.

3. Nama Kerajaan : Kesultanan Aceh Darussalam
Raja : Sultan Jihat Syah, Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Salahuddin, Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Iskandar Muda, Sultan Iskandar Thani, Sultan Safiatuddin
Peristiwa : Berdiri tahun 1204 di bawah pemerintahan Sultan Jihan Syah, namun belum berdaulat karena berada di bawah pengaruh kesultanan Pedir. Berdaulat lagi sejak munculnya Sultan Ali Mughayat Syah. Pada masa kekuasaannya Aceh berhasil memperluas kekuasaan dengan menyatukan kerajaan-kerajaan yang berada disekitarnya. Tahun 1607 mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Terbukti dengan berkembangnya di bidang ekonomi (mengembangkan tanaman lada), di bidang budaya (muncul ahli-ahli sastra seperti, Nurudin Ar Raniri dan Hamzah Fansuri), di bidang ilmu pengetahuan (datangnya ahli fisika dari Mesir dan ahli fikih dari Syria), di bidang agama (membangun Masjid Raya Baiturrahman) sehingga dijuluki kota Serambi Makkah. Tahun 1641 banyak daerah yang melepaskan diri dari Aceh karena Belanda berhasil mempraktik-kan politik adu domba.

4. Nama Kerajaan : Kesultanan Demak
Raja : Raden Patah, Pati Unus, Sultan Trenggana, Sunan Prawoto, Arya Penangsang
Peristiwa : Kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Didirikan oleh Raden Patah sekitar tahun 1500. Sejak surutnya Malaka, demak tampil menggantikan sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara. Tahun 1513 armada Demak, pmpinan Pati Unus melancarkan serangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka. Namun mengalami kegagalan sebab jarak serangan terhadap kedudukan Portugis terlalu jauh dan persenjataan Demak kurang. Demak di bawah Pati Unus pada tahun 1518 adalah Demak yang berwawasan nusantara. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Dengan adanya Portugis di Malaka, kehancuran pelabuhan-pelabuhan Nusantara tinggal menunggu waktu.Sultan Trenggono berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggono, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana. Panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggono. Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto. Suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak mulus; Sunan Prawoto ditentang oleh adik Sultan Trenggono, Pangeran Seda Lepen. Pangeran Seda Lepen terbunuh, dan akhirnya pada tahun 1561 Sunan Prawoto beserta keluarganya dihabisi oleh suruhan Arya Penangsang, putera Pangeran Seda Lepen. Arya Penangsang kemudian menjadi penguasa tahta Demak. Suruhan Arya Penangsang juga membunuh Adipati Jepara, ini menyebabkan banyak adipati memusuhi Arya Penangsang.

5. Nama Kerajaan : Kesultanan Pajang
Raja : Adiwijaya, Arya Pangiri, Sutawijaya
Peristiwa : Didirikan oleh Adiwijaya. Sebagai penguasa Pajang, Adiwijaya mendapat pengakuan dari Sunan Giri dan para adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sepeninggal Adiwijaya, seharusnya Pangeran Benawayang ebrhak menduduki kerajaan ini, namun tahtanya direbut oleh Arya Pngiri. Tindakan Arya Pangiri selama menjadi raja banyak membuat rakyat resah. Ia memberikan 1/3 dari sawah-sawah rakyat untuk pengikutnya dari Demak. Setelah Arya Pangiri ditumbangkan oleh Pangeran Benawa dan Mataram (dipimpin Sutawijaya), Pangeran Benawa berhak kembali atas kedudukannya di Pajang, namun ia justru menyerahkan kekuasaan pada Sutawijaya karena ia merasa tidak cukup cakap untuk memimpin Pajang.

6. Nama Kerajaan : Kesultanan Mataram
Raja : Sutawijaya, Mas Jolang, Mas Rangsang (Sultan Agung), Amangkurat I, Amangkurat II
Peristiwa : Kerajaan Islam di Jawa yang didirikan oleh Sutawijaya, keturunan dari Ki Ageng Pemanahan yang mendapat hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya, atas jasanya. Kerajaan Mataram pada masa keemasannya dapat menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura. Sutawijaya naik tahta setelah ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya dengan gelar Panembahan Senopati. Pada saat itu wilayahnya hanya di sekitar Jawa Tengah saat ini, mewarisi wilayah Kerajaan Pajang. Pusat pemerintahan berada di Mentaok, wilayah yang terletak kira-kira di timur Kota Yogyakarta. Lokasi keraton (tempat kedudukan raja) pada masa awal terletak di Banguntapan, kemudian dipindah ke Kotagede. Sesudah ia meninggal (dimakamkan di Kotagede) kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang yang setelah naik tahta bergelar Prabu Hanyokrowati. Pemerintahan Prabu Hanyokrowati tidak berlangsung lama karena beliau wafat karena kecelakaan saat sedang berburu di hutan Krapyak. Karena itu beliau juga disebut Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak yang artinya Raja (yang) wafat (di) Krapyak. Setelah itu tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro. Ternyata Adipati Martoputro menderita penyakit saraf sehingga tahta beralih ke putra sulung Mas Jolang yang bernama Mas Rangsang. Sesudah naik tahta Mas Rangsang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo. Namun ia lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung merupakan puncak kejayaan Mataram. Pada masa ini wilayah Mataram mencakup hingga pulau Jawa dan Madura. Akibatnya terjadi gesekan dengan VOC yang berpusat di Batavia. Maka terjadilah beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah beliau wafat (dimakamkan di Imogiri), penggantinya adalah putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I, Sunan Tegalarum). Letak keraton Mataram pada masa ini dipindah ke Pleret (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Bantul). Pemerintahan Amangkurat kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Terunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum ketika mengungsi. Penggantinya, Amangkurat II (Amral), patuh pada VOC sehingga kerabat istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Kekacauan politik baru dapat diselesaikan setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tahun 1755.

7. Nama Kerajaan : Kesultanan Cirebon
Raja : Fatahillah (sumber portugis), Syarif Hidayatullah (sumber Tjarita Tjaruban)
Peristiwa : Menurut sumber-sumber Portugis pendiri kerajaan ini adalah Fatahillah. Dengan seizin Sultan Demak, ia pergi ke Banten untuk menyebarkan agama Islam. Setelah menetap untuk beberapa waktu, ia kemudian berhasil mendirikan kesultanan Cirebon tahun 1552 dan menikah dengan puteri Demak dan jugan puteri Cirebon , puteri Sunan Gunung Jati. Menurut sumber-sumber Tjarita Tjaruban, kerajaan ini didirikan oleh Syarif Hidayatullah, cucu raja Pakuan Pajajaran. Naik tahta pada tahun 1482. Perkembangan di masa kepemimpinannya sangat pesat. Syarif Hidayatullah wafat di Cirebon dan dimakamkan di bukit Gunung Sembung yang letaknya berdampingan dengan bukit Gunung Jati. Gunung Jati pernah berperan sebagai tempat kagiatan keagamaan dan perdagangan.

8. Nama Kerajaan : Kesultanan Banten
Raja : Fatahillah, Hasanudin, Panembahan Yusuf/Maulana Yusuf
Peristiwa : Mulai dirintis oleh Nurullah/Fatahillah tahun 1525 atas perintah dan kesepakatan dengan Sultan Demak. Fatahillah memimpin Banten sampai tahun 1552. Lalu diteruskan putera keduanya, Hasanudin. Hasanudin dianggap sebagai sultan Banten pertama sebab ia telah berani menyatakan lepas dari kekuasaan Demak. Banten ramai dikunjungi karena dikenal sebagai pemasar lada. Sepeninggal Hasanudin, ia digantikan oleh puteranya yaitu Panembahan Yusuf atau Maulana Yusuf. Tahun 1579 ia menyerang kerajaan Pajajaran. Hingga akhirnya berakhirlah kekuasaan Hindu di Jawa Barat.

9. Nama Kerajaan : Kesultanan Gowa-Tallo (Makassar)
Raja : Tumaparisi-Kalonna dan Tunipasuruk, Daeng Manrabbia dan Karaeng Matoaya, Sultan Muhammad Said, Sultan Hasanuddin
Peristiwa : Pada abad ke-15 Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Tumaparisi-Kalonna dan Kerajaan Tallo yang dipimpin Tunipasuruk bersatu. Kedua kerajaan ini saling melengkapi kekurangan masing-masing. Beribukotakan di Sombaopu. Abad ke-16 para pedagang muslim telah berdatangan ke Sulawesi Selatan. Juga beberapa ulama Sumatera Barat tiba juga di Sulawesi Selatan untuk menyebarkan agama Islam. Pad tahun 1605 Penguasa Gowa-Tallo masuk Islam yaitu Daeng Manrabbia (Raja Gowa) bergelar Sultan Alauddin, dan Karaeng Matoaya (Raja Tallo yang merangkap Mangkubumi Gowa) bergelar Sultan Abdullah Awalul Islam. Sembari berkembang juga menyebarkan agama Islam ke daerah-daerah lainnya. Upaya karajaan ini rupanya ditentang oleh persekutuan Tellumpocco. Setelah berhasil mengalahkan Tellumpocco, kerajaan ini memperoleh kemajuan di bidang perdagangan karena; banyak pedagang yang hijrah ke Makassar setelah Malaka jatuh ke tangan bangsa Portugis tahun 1511, orang-orang Makassar dan Bugis terkenal sebagai pelaut ulung yang dapat mengamankan wilayah lautnya, dan tersedianya rempah-rempah yang banyak didatangkan dari Maluku. Masa kejayaan dicapai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Said dan Sultan Hasanuddin.

10. Nama Kerajaan : Kesultanan Ternate-Tidore
Raja : Zainal Abidin- Sultan Jamaludin, Sultan Ben Acorala- Sultan Almancor, Sultan Baabulah-Sultan Nuku
Peristiwa : Dari dalam kitab Sejarah Ternate diterangkan bahwa Raja Ternate yang pertama kali menganut Islam adalah Zainal Abidin. Raja Tidore yang pertama kali menganut Islam adalah Cirililiyah yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Jamaludin. Ketika Ternate berada di bawah kekuasaan Sultan Ben Acorala dan Tidore dibawah Sultan Almancor, keduanya berjhasil mengangkat kerajaan menjadi makmur. Namun, kamajuan kedua kerajaan tersebut malah menjurus ke perebutan pengaruh dan kekuasaan terhadap daerah di sekitarnya. Sehingga pada abad 17 muncul dua buah persekutuan yang terkenal dengan sebutan Uli Lima dan Uli Siwa. Persekutuan Uli Lima dipimpin Ternate (dengan anggota Ambon, Bacan, Obi, Seram), sedangkan Uli Siwa dipimpin Tidore (dengan anggota yang mencakup Makean, Halmahera, Kai, dan pulau-pulau lain hingga ke Papua Barat). Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahan Sultan Baabulah. Sedangkan Tidore mencapai puncak kejayaan di masa pemerintahan Sultan Nuku. Persaingan antara dua kerajaan ini dimanfaatkan bangsa asing untuk mengadudombaknnya. Tujuanya yaitu ingin memonopoli daerah rempah-rempah tersebut.

Dyah Anindya W. (VII B/16)